Sunday, 21 August 2016

#KonserTerbaikGue - When The Childhood Idol Comes To Town

Green Album. Ibarat kalau ada album terbaik sepanjang hidup gw, maka album ini adalah salah satunya

Oke, sebelum gw mulai bercerita melalui tulisan ini, ingin gw katakan bahwa #KonserTerbaikGue yang pernah gw datangi adalah konsernya Weezer. Kenapa? Nah, sebelum gw jelaskan kenapa, ada baiknya kita simak dulu sedikit latar belakangnya.

Jadi siapakah "Childhood Idol" yang dimaksud di judul? Ya tentunya Weezer. Entah apa yang bisa membawa gw menjadi penyuka band asal Amrik ini. Sepertinya memang takdir yang sudah menggariskan. 

Bisa dibilang Weezer adalah band rock yang pertama kali gw dengar kala itu. Gw pun berani menyatakan bahwa semua album Weezer gw punya. Dari album yang ‘bajakan’ beli di jembatan Blok M Plaza sampai yang gw beli di toko kaset terdekat. Walau akhirnya album-album fisik tersebut kini hilang entah kemana. Bahkan, ketika gw udah kenal internet, gw berhasil mengunduh lagu-lagu mereka yang masuk dalam jajaran b-side. Termasuk vcd dan footage dari internet yang berhasil gw dapat (dari hasil menyisihkan uang jajan).

Dulu, biasanya lagu-lagu mereka ini selalu menjadi pengantar tidur gw. Suara overdrive-nya yang gahar serta melodi lagunya yang poppy justru bikin nyaman untuk tidur. Kemudian, setiap ada video klip mereka yang ditayangkan di televisi gw pun sangat kegirangan. Gak cuma itu, gw pasti memasukkan lagu mereka di playlist Winamp gw untuk didengarkan pastinya sambil main Championship Manager di komputer. Dari cerita barusan jelas era masa kecil gw bersama Weezer adalah tahun 1999-2000an.

Beranjak dewasa, gw pun masih mendengarkan lagu-lagu mereka. Meski gw udah punya banyak musisi idola lainnya yang wajib didengarkan di playlist handphone. Tapi setiap kali salah satu lagu Weezer muncul, apalagi khas dengan bantingan overdrive-nya yang gahar tadi, terpikirlah di benak gw tentang “Kapan ya Weezer main di Indonesia?”

Ternyata, sekali lagi, mungkin memang sudah digariskan, WEEZER DATANG KE INDONESIA! Menyenangkan sekali mendengarnya. Terima kasih banyak pun gw ucapkan bagi promotor yang berhasil mendatangkan Weezer. Seolah pertanyaan gw dan banyak fans Weezer terjawab seketika.

Lantas, Januari 2013 silam, band ini akhirnya betul-betul mengguncang panggung di lapangan Senayan Jakarta. Gak peru ditanya, gw pun menjadi salah satu dari manusia-manusia Indonesia yang jadi saksi hidup untuk menyaksikan Weezer beraksi. 

Tanpa pikir panjang, konser Weezer di Indonesia saat itu juga gw nobatkan sebagai #KonserTerbaikGue.

KENAPA?

1. Gak pake lama. 
Yes, seketika Rivers Cuomo, Brian Bell, Pattrick Wilson, dan Scott Shriner masuk ke panggung, mereka mulai dengan sedikit sapaan hangat pengobat rindu ke penonton lalu dilanjutkan dengan musik pembangkit semangat bertajuk “I want you to” dilanjutkan dengan lagu-lagu dari hampir semua album mereka. Perfect situation,  Buddy Holly, Undone The Sweater Song, No One Else, Island in The Sun, dan sebagainya. You name it.

2. Gak ada band pembuka.
Well, “Weezer Live in Concert” means it’s totally from Weezer to all the fans. Bukannya gw gak mendukung gak ada band pembuka. They just simply nailed me.

3. Lagu-lagunya mengobati rasa kangen gw.
Seperti yang gw jelaskan di atas, setiap mendengarkan Weezer pasti terbesit pertanyaan tentang apakah Weezer akan main di Indonesia atau tidak justru bersifat akumulatif di batin gw. Secara tidak sadar gw pun makin kangen plus menghayal agar Weezer datang ke Indonesia. Lantas ketika mereka betul-betul datang ke sini, lagu-lagu mereka saat itu juga menjawab semua kerinduan gw yang membludak tadi.

4. Semua lagunya gw hapal
Ya, berhubung dari dulu sering gw dengerin buat tidur. Gw pun mau gak mau jadi hapal liriknya. So, ketika kita menonton sebuah konser dan kita hapal dengan lagu apa yang dinyanyikan, maka menurut gw itu akan menjadi konser terbaik yang gak akan pernah dilupakan.

5. Teriakan gitarnya membius
Weezer itu punya semacam slogan unik “If it’s too loud, turn it down”. Tapi justru bagi gw suara gitarnya yang syarat overdrive dan (atau) distorsi betul-betul membius gw untuk menikmati konser mereka. Thnx Weezer!

6. Nuansa rock tapi tetap hangat
Set panggung serta pencahayaannya yang terkesan 'warm' menjadikan konser Weezer kala itu menciptakan suasana kehangatan ternsendiri antara audiens dengan si musisi. Alhasil, meski musik-musik yang dimainkan penuh semangat dan up beat, penonton tetap dapat menikmati lagu-lagunya dengan syahdu. Termasuk gw.

7. Totalitas
Satu hal yang paling gw ingat adalah ketika mereka membawakan full satu album “Blue Album” yang notabene menjadi salah satu album favorit fans Weezer kebanyakan. Buat gw pribadi ini adalah bentuk totalitas sebuah band untuk memanjakan penggemarnya. Salut!

Jadi, gak salah gw menjadikan konser Weezer di Jakarta 2013 silam adalah #KonserTerbaikGue


=W=

Sunday, 24 April 2016

1 Year Writeless

Hmm, time flies, and out of nowhere i came back to this blog again. It's been a year since i wrote my last post. Boom! Well, a year has passed. So much things i've done and i've got. Maybe i can tell you what all the things i've done in my next writings. But let me think first, what should i write for my next post.


Btw, don't know why suddenly i write this post in english. Sorry for the bad grammar, i don't give a shit anyway, since it's not my native language. See ya!

Thursday, 26 February 2015

TAR SOK TAR SOK


TAR SOK TAR SOK

Ntar, besok, ntar, besok. Manusia itu (mungkin jaman sekarang, termasuk gw) adalah makhluk yang rentan dengan janji. Maksudnya apa rentan dengan janji? Makhluk yang gampang ngasih janji tapi susah buat ditepati. Jadi, ya kadang lu sering ngerasa diri lu adalah seorang yang belum mencapai titik maksimal. Nah, makanya sering ngerasa bikin janji ke diri sendiri. “Oke, mulai besok (TAR) gw bakal melakukan ini! Gw harus berubah” Ketika besok telah datang, lu bakal mulia berkata kepada sendiri untuk bilang “Besok aja deh.” dengan berbagai alasan yang lu buat-buat dari diri sendiri pula.

Contoh lain, “Oke, besok sore gw joging deh…” Nah besoknya, “Duh, banyak kerjaan, besok aja deh.” Begitulah terulang dan terus berulang. Keculai sampe pada saat titik jenuh di mana kita harus bener-bener melakukan apa yang kita janjikan kepada diri sendiri.

Contoh lain lagi, “Mulai besok gw harus rajin-rajin ibadah..” Besoknya, “Besok aja deh ibadahnya. Males.”

Kira-kira ngerti apa yang gw maksud?


Gw pun kerap mengalami hal ini. Yang namanya TAR SOK TAR SOK itu memang gak baik banget. Kita cenderung lupa kalau hidup itu selalu terikat dengan WAKTU. Nah, yang namanya WAKTU itu gak bisa dibeli dan gak bisa diulang. Gara-gara keseringan TAR SOK TAR SOK biasanya kita bakal lupa betapa berharganya WAKTU tersebut.


 "Mulai besok gw harus merubah diri gw. Gw akan melakukan ..."

"Besok aja deh. Males"

Friday, 20 February 2015

Bahagia Itu Sederhana


Yes, bahagia itu sederhana. Salah satu kebahagiaan adalah, ketika lu lagi libur atau gak ada kerjaan, lu bisa nonton film seharian di laptop dan melupakan kalau besok ada realita yang harus lu hadapi secara berulang-ulang. Pergi kerja, sekolah, kuliah, atau bahkan nggak ngapa-ngapain.

Tuesday, 17 February 2015

See Things From A Different Perspective

Well, setelah sekian lama gak nyentuh nih blog, akhirnya gw kembali lagi. Seperti biasa, kalo mampir ke sini pasti pas lagi gak ada yang mau ditulis. Tapi nampaknya gw ada sedikit celotehan yang ingin disampaikan. Jadi hal ini bermulai karena ketidaktahuan atua keterbatasan pengetahuan gw akan dunia sablon. So, jadi intinya gini, beberapa bulan lalu, gw sama temen-temen di rumah lagi nyoba bikin proyekan sablon. Beberapa mockup screen udah dicetak, salah satunya temen gw bikin cetakan mukanya vokalis Radiohead, Tom Yorke.

Nah, masalahnya itu cetakan sablonnya (screen sablon) harusnya diaplikasiin buat baju warna item. Tapi, karena tadi, gw sotoy gak jelas. Gw main coba-coba aja di baju tapi warna putih. Alhasil warnanya jadi kebalik dan gak jelas itu muka siapa. Tapi, gara-gara kesalahan ini gw jadi terpikir akan satu hal...

Bahwa terkadang banyak sekali hal atau pesan yang berseliweran di sekitar kita tapi langsung kita cerna dengan mentah-mentah tanpa coba mempelajari atau melihatnyaa dar perspektif yang berbeda. Nah, soalnya kalo kita kadang-kadang melihat something dengan cara yang berbeda kita mungkin bisa menemukan jawaban atau mendapatkan pengertian yang baru dan lebih baik. Cheers!


Monday, 20 October 2014

My First Doodle

Terinspirasi dari karya tetangga sebelah yang dipost di blognya, so gw juga nyoba pengen bikin doodle. MUngkin ini karya pertama gw di dunia per-doodle-an.


Saturday, 18 October 2014

Sudah diatur dan tidak akan tertukar

Jadi, kira-kira gini, gw inget beberapa tempo lalu, duduklah gw satu meja bersama seorang teman. Sebut saja namanya Oknum. Seperti biasa, manusia jaman sekarang adalah manusia millenial, yang hidupnya tiap hari harus selalu update dan terpaku dengan teknologi canggih serta dunia maya. Dikit-dikit liat henpon, liat linimasa di akun sosial medianya, atau membuat status di akunnya untuk sekedar mencari perhatian. Intinya gw dan si Oknum sambil nongkrong bareng sambil sibuk mantengin gadget masing-masing.

“Nih si Anu lama-lama ganggu banget deh,” kata Oknum tiba-tiba bernada serius sambil serius pula liatin hapenya.

“Kenapa?” kata gw santai.

“Belagu banget sih, mentang-mentang sekarang lagi S2 di luar negeri, tiap hari ada aja postingan fotonya di sana. Iya gw tau! Lo lagi di luar negeri! Tapi jangan norak ah!” Jawabnya.

“Terus?” tanggap gw, sambil berusaha mancing dia lagi. Pengen tau bakal ngomong apa lagi.

“Lo inget gak sih, dia tuh dulu jarang nongkrong bareng, terus gak pinter-pinter amat. Tapi sekarang S2 di luar. Dapet beasiswa, bisa-bisanya si Anu.” Keluhnya.

“Ya bisa-bisa aja sih, atau kali aja doi emang punya duit banyak. Jadi, mau kuliah di mana aja ya terserah,” tanggap gw.

===

Oke, ini menurut gw ya, dan menurut sepengalaman gw lah. Intinya, entah kenapa semenjak manusia jaman sekarang selalu hidup update bersama jejarin sosial media, cenderung banyak kasih dampak buruk. 

Kenapa?

1. Dikit-dikit liat henpon. Gak boleh ketinggalan informasi. Bukan informasi berita sih. Tapi lebih ke informasi hidup orang lain yang dia kenal di jejarin sosialnya lagi ada apa aja, lagi ngapain, dan blablabla.

2. Semakin gampang dapet akses informasi, tapi malah bikin pikiran makin sempit. Soalnya manusia-manusia yang ada di sekitar gw, cenderung gitu. Tau-tau liat orang laen update status atau upload foto yang keren-keren, malah nyinyir gak jelas.

3. Gara-gara liat kesenengan atau kesuksesan orang laen via status di jejaring sosmed. Bikin kesel sendiri, jadi ngeluh, pikiran negatif, terus jadi gosif (p). Gitulah. 

4. Tapi, giliran liat orang laen ada yang nyusruk (via statusnya) jadi seneng. Atau bawaannya pengen mencela. Aneh emang yang namanya manusia.

Kira-kira itu gejala-gejala yang sering gw amati. Gw gak tau apakah kalian juga merasakan hal yang sama kepada manusia-manusia di sekitar kalian. 

Dulu pun gw juga pernah ngerasain hal itu. Tapi, sampe akhirnya gw sadar. Kalo itu gak guna dan cuma buang-buang waktu. Ngapain sih ambil pusing liat kesenengan orang laen yang intinya orang laen itu pun gak akan peduli dengan lu. Tapi lu sendiri malah pusing? Don’t be like that!

Biarlah orang senang dengan kesenangannya dan mengekspresikannya melalui berbagai cara dan berbagai media. Termasuk via sosial media. Toh kalo lu juga lagi seneng, kadang-kadang lu juga gitu kan?

===

“Ya iya kali. Kesel aja gw, jadi berasa gak adil tau. Nilai gw yang bagusan tapi sekarang gw gini-gini aja. Fak lah” Ngeluh lagi.

“Lah kenapa gak adil? Terus lu pengen lu yang sekarang gini-gini aja tapi punya kerjaan, terus pengen kaya dia, bisa S2 di luar negeri juga? terus pengen idup enak terus bisa upload foto lu biar keliatan keren? Itu gak adil cuy.” Kata gw mencoba menyinyirkan keluhan si Oknum.

“Gak gitu maksud gw..jadi…” 

“Kagak lah, gini aja, itu namanya rejeki, udah diatur dan gak bakal ketuker. Kalo rejekinya dia gitu ya udah. Rejeki lu gitu yaudah. Terus ngapain lu pusing. Lu pusing emang doi bakal peduli? gak kan?” potong gw.

“Lu lagi seneng pun si anu gak bakal peduli. Yang penting sama-sama gak ganggu jadi ya santai aja. Apa mau kayak dia? Yaudah sana cari beasiswa. Lu dapet, ke luar negeir, nah lu upload dah tuh foto2 lu di negeri orang,” tambah gw.

“Iya sik, yah cuma gw heran aja, kenapa gini2 aja.” Oknum menunduk gak jelas, tapi tetep sambil liat henponnya.

“Kalo kata ustad di tipi-tipi….bersyukur aja kali. Kalo lu emang pengen dikasih lebih, yaudah bedoa yang banyak usaha yang keras. Itu kata ustad yak,” bales gw.

………….

“Ah gw jadi ikutan lebay kan kayak lu.” Kata gw sadar.

“Gini aja lah gampangnya. Kalo lu kesel liat si anu di sosmed. Udeh, unfollow/unfriend/unshare/remove atau apalah..Beres kan?”

“Gak lah..gw cuma masih heran aja. Kok dia enak banget..tapi gw gini-gini aja…” kata Oknum sambil mengeluh. Lagi.

“Yaudah. Terserah lu.” jawab gw males. 


Setelah itu, teman gw si Oknum itu pun lanjut berselancar lagi dengan henponnya. Terus masih melakukan hal yang sama. Cuma bedanya, gw males nanggepin lagi. Paling kalo dia komen sesuatu, gw cuma jawab “iya”.