Tuesday, 31 March 2015

Day 4 - Club 27 | Kenapa harus mati di usia segitu?

Club 27: Belakang: Robert Johnson, kiri-kanan:Brian Jones, Jim Morisson, Jimi Hendrix, Janis Joplin, Kurt Cobain


Mendengarnya, bisa dibayangkan mungkin ini adalah sebuah wadah keanggotaan atau komunitas yang berhubungan erat dengan angka 27. Entah itu sebuah angka saja, ataupun orang-orang yang angka favoritnya 27 dan semacamnya. Tapi, Club 27 ini adalah sebuah termin spesial yang mengacu pada beberapa musisi yang meninggal dunia di usia 27.

Kebanyakan dari mereka meninggal karena berususan dengan narkoba, kecelakaan, kekerasaan termasuk pembunuhan atau bunuh diri. Namun, sempat gw baca beberapa blog orang yang menjelaskan bahwa ada semacam konspirasi, bahkan hal-hal yang bersifat mistik berada di balik Club 27 ini.

Nah, siapa aja ya yang masuk dalam anggota Club 27? Kalau kalian googling mungkin bisa tau siapa saja musisi muda terkenal yang terpaksa meninggal di usia 27. Gampangnya, mungkin kalian pernah mendengar nama Kurt Cobain? Jimi Hendrix? Jim Morrisson? atau yang paling terakhir (dan terkenal) adalah Amy Winehouse. 

Tapi aneh juga sih kalau dipikir-pikir kenapa bisa terjadi ya? Maksud gw adalah, kenapa harus banyak terjadi pada mereka yang bisa diblang adalah orang-orang terkenal yang harusnya sedang masuk pada tahap-tahap produktif di karir mereka. Tapi nyawanya dicabut. 

Kalau kita coba browsing-browsing, Kurt Cobain misalnya, frontman dari band grunge yang meledak di awal  90an ini meninggal dengan dugaan bunuh diri. Vokalis dan giratis Nirvana ini ditemukan tewas di rumahnya pada 8 April 1994, Seattle, Amerika Serikat sana. Hasil otopsi mengatakan bahwa doi sudah mati tiga hari sebelumnya.

Nah berangkat dari Kurt Cobain ini, ternyata banyak sekali spekulasi yang muncul. Karena banyak yang meragukan kematiannya adalah murni bunuh diri. Ada yang bilang katanya dia sengaja dibunuh dan juga kaitannya dengan warisan blablabla sama istrinya, Courtney Love. Panjanglah kalau harus dijabarkan satu per satu. Cuma Tuhan yang tau.

Pertanyaan gw adalah, kenapa harus di usia 27? Kenapa sih dengan umur 27 itu? Gw pernah membahas hal ini sebagai salah satu bahan obrolan ringan dengan salah satu teman di kampus dulu. Bahwa di umur 27, kemungkinan seseorang manusia sediki ‘lebih’ mendapatkan tekanan dalam hidup.

umur 27 itu.. (ini gak valid, cuma bahan obrolan dan semacam asumsi asal-asalan)
Semakin dekat berhadapan dengan pilihan hidup.
Bisa dibilang usia 27 itu adalah usia di mana seseorang semakin tua tapi dengan kemasan tetap muda. Mau serius tapi masih pengen bercanda-canda. Memilih untuk fokus mengejar apapun yang dikejar, tapi masih ingin bersenang-senang. Jadi intinya, usia 27 bisa diibaratkan momen-momen di saat seseorang kembali labil pada saat remaja. Namun bedanya mereka memang sudah masuk ke daerah “Sebentar lagi 30, dan semakin tua”. Masih ingin ini-itu, tapi semakin terbatas ruang geraknya. Mengakibatkan stres berkepanjangan alias kepikiran.

Emas tapi rapuh
Usia 27 itu kalo dikaitkan dengan karir pekerjaan adalah seperti seseorang yang sudah berada di ketinggian puncak (atau mungkin ada beberapa orang yang sudah sampai di puncaknya). Beban semakin besar, pekerjaan semakin menumpuk, tapi suasana yang masih ‘berasa muda’ terkadang mengganggu. Dalam arti -kembali ke penjelasan no. 1- masih ingin bermain-main. Ingin lepas dari tanggung jawab. Usia ini rentan membuat seseorang jatuh terpuruk dalam karirnya. Sama halnya ketika tidak ada pekerjaan, pasti sering kepikiran ‘duh umur gw segini tapi kok belum dapet kerja?’. 

Jadi, terlepas dari hal-hal seperti takdir atau nasib, bisa saja usia 27 itu memang rentan akan beban kehidupan. Coba aja bayangin musisi-musisi legenda tsb, mereka lagi di puncak karir, tapi tertekan karena harus tampil sana-sini, terikat kontrak segala macem, gimana gak stres coba? Makanya larinya ke narkoba, bunuh diri dan sebagainya. (terlepas kebiasaan mereka mungkin begitu)

Sekian.


Anyway, today is my birthday. I’m 27 now.

Monday, 30 March 2015

Day 3 - "Earth"


  1. "Earth" | Is this artsy enough?
Well, kali ini gak ada yang ingin gw bahas. Intinya ini adalah karya sketsa gw, ceritanya sok-sok representasiin bumi gitu. Silakan dinikmati dan diresapi. Have a nice day!

Sunday, 29 March 2015

Day 2 -Traffic Jam & Jakarta

"Traffic Jam" 

Gambar di atas ceritanya adalah visualisasi yang sok-sok artsy dari gw ketika merepresentasikan sebuah kemacetan kota Jakarta. Tapi, hal yang ingin gw sampaikan adalah jelas tentang kemacetan. Satu hal yang nggak pernah lepas dari lika-liku kehidupan kota Jakarta. Sebuah realita yang paling dibenci seantero masyarakatnya. 

Membahas masalah kemacetan Jakarta itu seperti mendiskusikan permasalahan "Ayam atau Telur". Berujung pada keluhan kita-kita semua yang menyalahkan pemerintah atas infrastruktur kota yang payah. Atau saling menyalahkan karena makin banyaknya masyarakat yang beli kendaraan pribadi. Menyalahkan negara yang kehidupan ekonominya terlalu sentris di ibukota saja.

Tiga contoh barusan bisa aja sih kalau mau dijadiin sebagai penyebab macet Jakarta. Tapi yah nasi sudah menjadi bubur. Hidup terus berjalan dan berkembang. Namanya macet ya macet aja dan ini mengingatkan sebuah perkataan seorang kenek yang berteriak kepada seorang pengendara mobil akibat insiden "keserempet". 

Jadi, kira-kira semasa gw kuliah dulu, waktu belum punya kendaraan pribadi, tentunya gw pulang pergi ke universitas harus naik angkot. Oiya, saat itu realita Jakarta macet sudah menjadi-jadi. Naiklah gw sebuah Kopaja jurusan Depok-Blok M. Gw naik dari daerah Trakindo Cilandak, TB Simatupang dan di jalan itu macetnya sudah bukan main. Kalau gak salah jam 7-8 pagi lah. Itu adalah saat-saat hectic orang sedang berangkat kantor di jalan.

Ketika sedang bermacet-macetan, baru saja gw naik itu Kopaja. "Brak" ternyata ada seorang pengendara mobil yang menabrak Kopaja yang gw tumpangi dari belakang. Tak perlu menunggu lama, si sopir mobil pribadi, sopir kopaja dan kondekturnya langsung sama-sama turun dan adu mulut tidak terelakkan.

Kira-kira lima menit percekcokan mereka berlangsung. Usut punya usut, si pengendara mobil pribadi kesal dengan ulah Kopaja yang seenak-enaknya ngetem hingga bikin macet. Tidak kuat dengan sikap si Kopaja. Ditabrakkan lah itu mobil pribadi (seinget gw semacam mobil gede TAFT gitu) ke bagian belakang Kopaja.

Yah, mengingat kejadian tersebut, dua-duanya salah sih. Yang satu ngetem gak tau diri. Yang satu gak bisa nahan emosi dan arogan. Tapi, yang perlu diingat adalah, Kopaja dan mobil pribadi sepertinya lupa akan realita kemacetan Jakarta. Namanya pagi-pagi macet kok suka seenaknya. Ngetem sih boleh, tapi jangan bikin jalanan yang udah macet jadi makin macet. Bawa mobil pribadi juga boleh, tapi udah tau macet ya sabar.

"GAK MAU MACET? TINGGAL DI HUTAN SANA!" 

Itu adalah teriakan dari sang kondektur ke pengendara mobil pribadi saat mereka sedang cekcok mulut. Tapi pastinya itu bikin gw tersenyum dan menyadari secara sederhana. Kalau tau Jakarta memang macet ya mbok sabarlah. Kalau coba inget-inget kata guru atau dosen, "Biar gak terlambat ya pergi lebih pagi dong!" kalau dianalogikan, "Ya kalau gak mau kena macet ya harus berangkat lebih pagi!"

Atau, buat si Kopaja, "Tugas kamu mana? yang lain bikin kamu kok nggak? Jangan nyusahin temen-temen yang lain dong!" kalau dianalogikan, "Bang, ini jalanan udah macet! Jangan ngetem lama-lama dong. Nyusahin kendaraan yang lain aja!!"

Yah, semoga kalian ngerti dengan penjelasan gw. Mari kita renungkan dan resapi masalah realita macet Jakarta ini. Balik lagi, simpel sih, gak mau kena macet toh ujung-ujungnya bakal kena macet. 

Terus kapan Jakarta gak macet? 

Jam 12 malem ke atas. Kalau emang pemerintah nyediain angkutan umum yang pelayanannya oke termasuk infrastruktur yang mendukung. Kalau kita-kita nyadar supaya gak bawa kendaraan pribadi mulu apalagi kalau BBM harganya jadi mahal. Kalau kita mau bela-belain naik sepeda atau bahkan jalan kaki, atau nebeng sama orang lain kalau gak punya malu. Kalau Indonesia punya kota besar lain yang sama persis semacam Jakarta yang banyak lapangan kerjaan biar gak numpuk semua orang-orang di Jakarta. Kalau mobil bisa terbang. 

Kalau emang masih macet juga?

Tinggal aja di hutan. 

Saturday, 28 March 2015

Day 1 - Cara melampiaskan rasa emosi, sedih, atau bingung.

"Feeling Blue" | The Beginning of Cubism


Ada saat-saat ketika kita merasa emosi, sedih, atau bingung karena banyak hal. Yang menyebalkan adalah, kita harus menghabiskan banyak waktu untuk meresapi perasaan tersebut dengan tidak melakukan apapun. Akibatnya? Stres atau bahkan melakukan hal bodoh. 

Lantas bagaimana caranya untuk melampiaskan perasaan kacau balau tersebut ke arah yang lebih positif atau paling tidak, mendingan? Mengutip perkataan teman gw... "Berkarya". Ya, berkarya atau sibukkan diri kita untuk melakukan hal yang baik. 

Pikirkan baik-baik, ketimbang cuma tidur? (Tidur tidak menyelesaikan masalah, cuma menunda otak kita untuk tidak memikirkan apa yang sedang kita resahkan -- sukur-sukur masih bisa tidur). Jadi lebih baik kita berkarya kan? Luapkan perasaan campur aduk yang mengganggu batin dengan menghasilkan sesuatu yang berguna. Paling tidak bisa melegakan hati dan, semoga, bisa melegakan hati orang lain.

So?

1. Bersyukur
Kalau kata ustad, hidup itu harus bersyukur. Jangan merasa kita adalah manusia yang paling besar beban hidupnya. Jangan lihat ke atas. Tapi lihat ke bawah. Karena biasanya yang di bawah lebih banyak yang beban hidupnya lebih berat. Namun tetap kuat menjalani hidup.

2. Berpikir positif
Hidup itu tidak selalu mengenakkan. Kita juga harus mengalami saat-saat yang nggak ens. Jadi lebih baik berpikir positif selalu. Ingat hidup itu penggemblengan, supaya ke depan kita bisa lebih baik dan lebih bijak.

3. Lakukan sesuatu
Pikirkan baik-baik. Apa yang bisa kita lakukan? Apa interest kita? Apa hobi kita? Bisa main musik? Mainkanlah. Buat lagu, lirik, atau belajar bermain musik. Bisa gambar? Coba tuangkan perasaan yang sedang mengganjal dalam hati ini ke dalam sebuah gambar (Mungkin jadinya abstrak, tapi gapapa. Abstrak yang penting nyeni. Orang lain bilang gak jelas, tapi bagi kita kan itu nyeni.) Suka fotografi? Silakan berfoto-foto ria. Butuh liburan? Cari tanggal yang pas dan liburan. Ibadah? Tentu. (Curhat gak harus sama orang. Inget, Tuhan kan maha mendengar)

4. Dia yang menabur. Dia yang menuai
Coba renungkan diri. Mungkin ada yang salah dengan diri kita. Ketika kita punya salah, lantas? Minta maaf, koreksi diri, tanggung jawab atas kesalahan tersebut.

Mungkin kira-kira sekian aja share dari hamba. Semoga bermanfaat.

Anyway, gambar di atas adalah salah satu ungkapan hamba ketika sedang merasakan emosi, sedih, bimbang, dan semacamnya. 

Satu lagi, this is my second rally blog. Enjoy it!

Monday, 16 March 2015

365 Rally Blog Strikes Again

Well, gw pikir-pikir sekarang pekerjaan gw masih berhubungan di dunia tulis menulis (Copywriter). Maka makin gak ada salahnya kalau gw makin mendalami dunia tulisan. Ya paling nggak buat kebutuhan pribadi dan sejauh ini pun begitu. Terbukti dari isi blog gw yang 80% terbilang gak guna. Mungkin supaya gw punya kemampuan menulis yang lebih baik, sepertinya gw harus melakukan project 365 rally blog kaya tahun kemarin. Dengan syarat setidaknya tulisan gw harus punya "cerita" yang bisa dibaca setiap hari. Gak kaya dulu, ada aja beberapa blog yang gak jelas. So, let's start it tomorrow. I hope.

Cheers.

Thursday, 26 February 2015

TAR SOK TAR SOK


TAR SOK TAR SOK

Ntar, besok, ntar, besok. Manusia itu (mungkin jaman sekarang, termasuk gw) adalah makhluk yang rentan dengan janji. Maksudnya apa rentan dengan janji? Makhluk yang gampang ngasih janji tapi susah buat ditepati. Jadi, ya kadang lu sering ngerasa diri lu adalah seorang yang belum mencapai titik maksimal. Nah, makanya sering ngerasa bikin janji ke diri sendiri. “Oke, mulai besok (TAR) gw bakal melakukan ini! Gw harus berubah” Ketika besok telah datang, lu bakal mulia berkata kepada sendiri untuk bilang “Besok aja deh.” dengan berbagai alasan yang lu buat-buat dari diri sendiri pula.

Contoh lain, “Oke, besok sore gw joging deh…” Nah besoknya, “Duh, banyak kerjaan, besok aja deh.” Begitulah terulang dan terus berulang. Keculai sampe pada saat titik jenuh di mana kita harus bener-bener melakukan apa yang kita janjikan kepada diri sendiri.

Contoh lain lagi, “Mulai besok gw harus rajin-rajin ibadah..” Besoknya, “Besok aja deh ibadahnya. Males.”

Kira-kira ngerti apa yang gw maksud?


Gw pun kerap mengalami hal ini. Yang namanya TAR SOK TAR SOK itu memang gak baik banget. Kita cenderung lupa kalau hidup itu selalu terikat dengan WAKTU. Nah, yang namanya WAKTU itu gak bisa dibeli dan gak bisa diulang. Gara-gara keseringan TAR SOK TAR SOK biasanya kita bakal lupa betapa berharganya WAKTU tersebut.


 "Mulai besok gw harus merubah diri gw. Gw akan melakukan ..."

"Besok aja deh. Males"

Friday, 20 February 2015

Bahagia Itu Sederhana


Yes, bahagia itu sederhana. Salah satu kebahagiaan adalah, ketika lu lagi libur atau gak ada kerjaan, lu bisa nonton film seharian di laptop dan melupakan kalau besok ada realita yang harus lu hadapi secara berulang-ulang. Pergi kerja, sekolah, kuliah, atau bahkan nggak ngapa-ngapain.