Monday, 31 March 2014

26 y.o

Oke, tak terasa setahun telah berlalu, dan sekarang gw memasuki usia 26. Apa yang sudah gw dapat? belom ada. Sekian! Selamat juga untuk semua orang di dunia yangberulang tahun hali ini. #cheers!

Monday, 13 January 2014

For those who always bitching their life..

"Lihatlah orang yang lebih rendah (kenikmatannya) darimu dan janganlah melihat kepada yang lebih banyak (kenikmatannya) darimu agar kamu tidak mencela nikmat yang Allah anugerahkan kepadamu."

-(HR Muslim dan Tirmidzi)

Friday, 10 January 2014

Buat bahan kontemplasi

 Oke, kali ini gw nemu kuotasi menarik dari seorang komedian asal Amrik sana. Memang terdengar agak konservatif, atau sok ke-tua-tua-an. Tapi ucapan ini menurut gw patut untuk dikontemplasikan. 

 

===

 

“The girl says "Oh uh-uh, wait a minute! Wait a minute! Just because I'm dressed this way does not make me a whore!" Which is true, Gentlemen, that is true. Just because they dress a certain way doesn't mean they are a certain way. Don't even forget it. But ladies, you must understand that is fucking confusing. It just is. Now that would be like me, Dave Chappelle, the comedian, walking down the street in a cop uniform. Somebody might run up on me saying, "Oh, thank God. Officer, help us! Come on. They're over here. Help us!" "Oh-hoh! Just because I'm dressed this way does not make me a police officer!" See what I mean? All right, ladies, fine. You are not a whore. But you are wearing a whore's uniform.” 

- Dave Chappelle


Kata Bapak Saya

Hari itu, entah hari apa, yang pasti terjadi sebuah pembicaraan sederhana antara seorang anak dan ibunya. Benar-benar sebuah pembicaraan sederhana, dan lama. Tumben, kala itu pembicaraan berlangsung lumayan sedikit lama, karena biasanya si anak selalu pulang bekerja di waktu-waktu menjelang larut malam. Sedangkan ketika sesampainya di rumah, si ibu sudah keburu terlelap tidur. Tapi, sekali lagi, entah pada hari apa itu, si anak dan si ibu ini akhirnya bisa mendapatkan momen untuk berbincang.

Pembicaraan berlangsung di sebuah ruang keluarga yang diterangi dua buah lampu pada langit-langitnya. Hembusan angin terasa menyejukkan suasana saat itu. Pembicaraan antara si anak dan si ibu seolah hampir sama seperti pertandingan panco. Keduanya saling duduk berhadapan. Cuma dibatasi meja makan dan sebuah piring kotor, gelas-gelas, dan beberapa hidangan makan malam saat itu yang kebetulan terletak di atasnya.

"Tumben pulang cepet, lu" kata si ibu kepada anaknya, sambil memegang sebuah kain lap dan menatap malas ke arah televisi yang sedang menyiarkan sebuah program yang bisa dibilang "sampah" tapi laku.

"Iya, kan motor lagi di bengkel, makanya naek kereta..cepet, gak kena macet. Sepi pula." balas si anak.

"Motor belom ada setahun udah rusak mulu." ucap sang ibu, sambil berdiri dan merapihkan meja makan. Kemudian mengambil piring kotor bekas makan si anak dan dibawanya ke dapur di belakang rumah.

"Ya gimana? namanya juga motor modif, udah resiko kalo tau-tau rusak," kata si anak dengan suara yang agak mengeras. Dengan maksud agar suaranya terdengar oleh sang ibu yang tau-tau pergi ke dapur untuk mencuci piring. "Udah sih, mak. Gw aja yang nyuci. Udah malem juga, ngapain maen aer?!? Ntar sakit.."

"Gak apa-apa, cuma dikit ini cucian piringnya. Lagian di rumah kan pembantunya gw-gw juga." tandasnya dengan santai.

"Terserah deh, 'Mak" balas si anak dengan cuek.

Pembicaraan sempat terhenti sebentar. Suasana saat itu masih sama, sejuk, dan sedikit bertambah berisik karena si ibu sedang mencuci piring di dapur.

Si anak pun, mulai beberes. Tas yang tadinya masih diselempangi di badannya kini sudah digantung. Begitu pula jeans-nya yang kini sudah diganti menjadi celana pendek. Tidak lama setelah itu, pembicaraan berlanjut lagi di meja makan.

"Gimana kerjaan lu?" ucap si ibu.

Sambil membuka tudung saji di meja makan, berharap masih menemukan kerupuk udang yang ada di dalam toples, si anak berkata "Yah, biasa, kerjaan banyak. Banyak kerja, banyak bengong. Tau-tau udah malem aja. Pulang".

"Hah?!? Jadinya lu kerja apa bengong?" kata si ibu.

"Ya kerja lah, 'Mak. Emang minggu-minggu ini deadline kerjaan udah beres. Jadi ya sisanya bengong. Kalo gak bengong, ngebes (ngobrol), atau tidur palingan." lanjut si anak yang kini sambil mengunyah sebuah krupuk udang yang berhasil ditemukannya.

Tiba-tiba ibu menghela nafas dan terlihat seperti ingin menyampaikan sesuatu atau sebuah nasihat.

"Inget, kerja tuh yang bener. Kalo emang lagi gak ada kerjaan, lu ngapain kek. Baca-baca buku, atau ngapain gitu yang berguna. Ngaji, sholat. Oiya, jangan lupa sholat lu. Gw perhatiin sekarang lu bolong lagi sholatnya. Isya sama Shubuh kelewatan mulu. Jangan-jangan di kantor juga nggak sholat lagi!?!"

"Sholat kok!" tegas si anak dengan raut wajah yang agak sedikit mengencang. Berusaha melakukan pembelaan bahwa dirinya selalu beribadah. Tapi mengakui kalau ibunya benar.

"Kerja yang bener, rajin. Banyak belajar biar pinter. Sama doa. Sholat. Wajib tuh," lanjut si ibu. "Mama jadi inget Ayah".

"Dulu Ayah pernah ngomong, ini kalo ngomongin masalah pekerjaan lho ya. Jadi, yang namanya orang atau manusia itu ada empat jenis. Pertama, orang yang pinter, rajin pula. Kedua, pinter, tapi males." ingat si ibu.

"Terus?"

"Bego, tapi rajin. Satu lagi, udah bego, males juga" tutupnya.

Si anak terlihat berpikir, berusaha mencerna dan membayangkan apa maksud mendiang ayahnya mengatakan hal demikian kepada sang ibu.

"Jadi, kalo kata Ayah, orang yang pinter dan rajin itu pasti banyak yang suka, terus jalan hidupnya beres. Terus, orang yang pinter tapi males itu pasti bakal banyak yang gak suka, dibenci orang, cenderung sombong, bikin kesel lah pokoknya." ujar si ibu.

"Nah, kalo orang yang bego tapi rajin, kata Ayah justru bahaya. Bisa ngerusak soalnya terlalu rajin, terlalu inisiatif. Bahaya. Makanya kan orang bego itu harus belajar biar jadi pinter. Malah mendingan bego dan pemalas. Bisa disuruh-suruh dan diomelin. Bisa dibego-begoin juga." Tutupnya.

Kali ini si anak makin berpikir lagi. "Kenapa Ayah ngomong gitu? Maksudnya apa?"

"Yah, pokoknya gitu lah, Mama juga udah lupa. Ingetnya Ayah pernah ngomong kaya gitu ke Mama," balas si Ibu. "Intinya gini, lu kan udah disekolahin, udah sarjana, wajar dong kalo lu harus jadi orang pinter? Terus, lu kan punya kerja, jadi harusnya lu jadi orang yang rajin kerjanya."

"Makanya, banyak belajar, biar otaknya gak bego. Terus jangan tidur mulu. Lu tuh susah dibangunin. Jangan sampe jadi orang bego terus pemalas. Ntar makin dibego-begoin..." lanjut ibu.

Si anak pun menjadi serius mendengarkan dan seolah dimasukkan ke dalam hati. Dirinya pun tidak tahu ke golongan yang mana. Tiba-tiba dia termenung. Membayangkan, seandainya saja dia bisa memanggil ayahnya yang sudah ada di alam lain untuk bertanya maksud dari jenis-jenis orang tersebut.

Tidak lama setelah itu, si anak berpindah dari ruang keluarga ke kamarnya untuk pergi tidur. Karena sudah tidak kuat menahan kantuk lagi. Belum lagi, dia jadi teringat empat jenis orang itu. Maksudnya apa, kenapa begitu, dia pun tak tahu.


Friday, 3 January 2014

2013 & 2014 = Diakhiri dan dimulai dengan Kegagalan

Hai. Setelah sekian lama nggak ngoceh di blog ini, akhirny ada beberapa patah emengan yang ingin gw sampaikan. Dimulai dengan mengacu judul postingan blog kali ini. Maksudnya apa? Yes, kegagalan. Tahun 2013 buat gw diakhiri dengan kegagalan dan tahun 2014 buat gw dimulai dengan kegagalan. Itu semua terjadi karena satu perkara. Gw gagal tembus ujian final untuk masuk menjadi CPNS Kementerian Luar Negeri.

Rasanya gimana? Damn. Nyesek. Nge-drop. Lu bayangin aja, di saat-saat lu menanti hasil pengumuman terakhir, dan di situ juga lah saat-saat lu mulai membangun mimpi yang ingin lu jadikan kenyataan ketika nantinya berhasil tembus, tapi harus berakhir dengan kata "Tidak Lulus". Well, keputusan dari sononya udah bulat. Apa boleh buat? Singkat kata, kalo kata orang-orang "emang belom rejeki."

(Lagi-lagi, inilah momen ketika ekspektasi berbenturan dengan realiti.)

Pengumuman kegagalan itu diumumin tanggal 31 Desember 2013 yang notabenenya, ketika kegagalan itu datang di akhir tahun, maka awal 2014 buat gw, bisa dibilang, diawali dengan rasa suram akibat kegagalan tersebut. Tapi maksud kegagalan itu di sini bukan berarti hidup gw gagal total. Kalo kata ustad, mungkin ini bisa cobaan atau teguran. Memang gwnya mungkin yang masih belom punya kualifikasi yang pas untuk bisa tembus ke Kemlu. Sekali lagi, memang nyesek nerima kenyataan pahit. Yah boleh gw bilang pahit, karena namanya cita-cita tapi gagal diraih jadinya ya nyesek.

Nah, buat kalian yang mengalami hal sama kayak gw. Apapun itu bentuknya. Jangan nyerah. Kecewa, kesal, sedih, nge-drop, nge-down, dan semacamnya, gak masalah. Dienjoy dulu aja rasa itu. Menurut gw rasa demikian itu muncul karena ekspektasi udah semakin numpuk di kepala. Jadi ketika ekspektasi itu sirna, jadinya blarrrrr!!! Harapan juga penting, supaya bisa terus termotivasi. Asal jangan kelewat berharap aja. Biar gak nyesek-nyesek amat.

Tapi perlu diinget juga, hidup bukan berarti selesai ketika kita menghadapi semacam kegagalan ini. Masih banyak jalan lain. Selagi masih ada waktu, coba terus. Kalo kata ustad, "ikhtiar!" Terus, kalo kata ustad lagi, kalo emang menghadapi kegagalan, "istighfar..ikhtiar lagi deh..jangan lupa banyakin lagi doanya."

Kembali ke permasalahan "kegagalan" buat gw.
Untung ada pacar yang semangatin gw. Gw pun sebelumnya memang udah sempet ngobrol sama doi, kalo ini gak keterima toh masih ada rencana lain yang harus gw tempuh. Cita-cita lain maksudnya. Bener juga kata doi, terima kenyataan, masih ada waktu buat gw, banyak hal yang harus gw persiapin, gw usahain, gw ikhtiarin (kalo kata ustad). Jadi, gak ada salahnya gw coba lagi tuh yang namanya masuk CPNS Kemlu. Tapi kalo tahun ini ada pembukaan. Sekian.

Semoga 2014 Masehi ini akan datang ribuan kebahagiaan buat kita setelah mengalami satu kegagalan. Amin.


Monday, 19 August 2013

Frenzal Rhomb - Never Had So Much Fun

"Hidup itu gak selamanya untuk bersenang-senang. Karena semakin banyak engkau bersenang-senang maka kau lupa akan apa yang namanya arti hidup." -x

Thursday, 11 July 2013

Nan va Koutcheh | Bread and Alley (1970)



Oke, kali ini masih berlanjut tentang ulasan film besutan orang Iran bernama Abbas Kiarostami. Kali ini berjudul Nan va Koutcheh dalam bahasa Parsi atau Bread and Alley dalam bahasa Inggris. Film pendek juga, berdurasi 10 menit, tanpa suara, hitam putih, dengan cerita yang bisa dibilang super sederhana. Tapi, walau super sederhana, menurut gw beberapa dari lu pasti pernah mengalami kejadian yang sama di film ini. Pernahkah lu kejebak pulang sekolah gak berani lewat gang menuju rumah gara-gara ada anjing entah punya siapa lagi santai di jalan menuju rumah lu? Gw sih pernah. Bagaimana dengan lu? Nah, tentang hal itulah si film bercerita. Silahkan dicoba ditonton, cocok buat lu yang butuh film yang non-mainstream. (asik, sotoy gw)

Catatan dari gw:
1. Pesan moral dari film ini, berdasarkan analisis kesotoyan gw: Hadapi segala masalah atau tantangan yang ada di depan muka lu. Jangan lari. Karena sebetulnya lu bisa ngelewatin hal itu. (semoga aja lu setuju setelah nonton film ini)
2. Indonesia butuh film kayak gini buat anak-anak. Please, someone, buat film gini dong? (apa udah ada kali? tapi gwnya yang gak tau?)