Wednesday, 8 May 2013

How To: Ketika Kuping Kemasukan Serangga

Oke, dari judulnya, maka gw ingin share pengalaman gw ketika menghadapi satu situasi yang bisa dibilang tidak mengenakkan diri. Yaitu, ketika kuping lu kemasukan serangga, entah itu semut, laba-laba, atau kecoak. Yang pasti binatang yang kecil-kecil gitu. Yang pasti juga jangan sampe kalian menghalami hal demikian yang baru saja gw alami malam tadi.

Sedikit cerita, selama 25 tahun hidup gw, udah tiga kali gw punya kuping kemasukan serangga. Pertama ketika jaman SD dulu, kemasukan laba-laba kecil pas lagi tidur. Terus entah sma atau smp kuping gw kemasukan semut kecil pas lagi tidur. Semalem, kuping gw kemasukan semacam semut kecil tapi yang ada sayapnya. Jelas ini memberi pengaruh psikologis ke gw, traumatik. Jadi setiap tidur pasti kepala gw harus ditutupin bantal.

Jadi, gini ceritanya, tadi malem gw tidur di kasur. Seperti halnya kegiatan yang dilakukan manusia pada umumnya, kita butuh tidur. Di tengah-tengah ketidaksadaran gw karena udah tidur, alam bawah sadar gw mulai tersadarkan dari munculnya suara gemuruh "ksk,,kskkk,ksssk,ksk,,ksk" aneh. Itu terdengar dari sebelah kiri kuping gw. Dalam keadaan setengah sadar, gw pun langsung sekejap sadar, karena jelas ada sesuatu yang masuk ke kuping gw.

Nah, singkat kata. Apakah itu? ketika lu mengalami hal ini? gimana menghadapinya? berikut tips gw.

1. Jangan panik. Memang keadaan demikian gak enak. Ketika lagi enak-enak tidur, tau-tau ada benda asing masuk ke kuping lu. Ditambah imajinasi liar yang nongol di benak lu takut kuping lu kenapa-kenapa. Jadi, tetap tenang, bangun dan menuju lah wc atau wastafel.

2. Ambil air secukupnya. Atau, berdasarkan penulusuran gw di internet, bisa juga cari baby oil atau minyak goreng yang masih bersih (jangan jelantah). Nah itu air masukin ke kuping lu. Secukupnya, jangan kebanyakan. Ntar luber kemana-mana. Ketika air udah masuk, lu tahan bentar. Ini dimaksudkan supaya membuat si serangga itu gak bisa napas dan sukur-sukur langsung nyari udara dan keluar dari kuping lu. Lakukan ini berulang kali kalo gak keluar-keluar tuh binatang.

3. Setelah itu, tutup lubang kuping yang gak kemasukan serangga, idung, dan mulut lu. Coba lakukan tiupan dalam kedaan gitu, rasain seperti ada dorongan angin yang keluar dari kuping yang kemasukan serangga. Ini dimaksudkan supaya ada dorongan ke luar, jadi supaya si serangga itu bisa keluar sedikit demi sedikit. (ini juga bisa dilakukan sebelum memasukkan air. Tapi untuk kasus gw, gw masukin air dulu baru cara ini).

4. Kalo emang lu gak nyaman, karena merasa masih ada serangga di dalem kuping lu, coba ambil cotton bdt, atau pinset (disarankan untuk minta bantuan orang lain untuk meriksa lubang telinga yang kemasukkan serangga). Ini sebenernya gak direkomendasiin, karena jelas kecenderungannya bisa makin dorong serangga itu ke dalem kuping lu. Kalo gw tapi tetep ngelakuin ini, pake cotton bud. Cranya masukin pelan-pelan dengan posisi agak ditekuk ke atas atau ke bawah. Tujuan gw lakuin ini karena supaya ngedesak si serangga kejepit ke dinding lubang telinga. Beresiko. Tapi tetep gw lakuin, karena gak bsa bertahan lama-lama dengan serangga masih ada di dalem kuping gw. Setelah cukup dalam, tarik pelan-pelan cotton bud-nya keluar dan liat, dapet sesuatu gak?

Ini adalah hasil penggalian gw:

Ini semut terbang kecil. Bukan congek. Maklum pake kamera hp, jadi gambarnya gak jelas.

5. Cara paling ampuh dan terbaik. Segera larikan dirilu ke rumah sakit untuk dilanjutkan ke pelayanan THT.

Enjoy! Semoga gak kenapa-kenapa kupingnya. Sharing Is Caring!

Friday, 19 April 2013

Asumsi: Mother of all fuck ups

"Asumsi itu adalah mother of all fuck ups,"

Demikian hal itu terlontar dari salah satu bos gw di kantor. Terkadang atau sepintas perkataan itu bisa terdengar seperti sebuah celotehan serangan dari atasan ke bawahannya karena si bawahan hanya bisa berasumsi tanpa melakukan riset atau sesuatu yang berdasarkan fakta sebelum memberi argumen kepada atasan. Tapi, jika dipikirkan lebih dalam lagi, itu adalah sedikit tips hidup buat gw dari atasan gw.

 Gw pikir memang bener juga. Kadang kita cenderung sering berasumsi untuk melakukan ini atau itu, atau juga untuk berceloteh ini ataupun itu. Asal ngemeng aja (hampir sama kayak kebanyakan postingan gw yang isinya cuma emengan gak jelas belaka). Jadi, kesimpulan atau hikmah yang gw dapatkan dari kuotasi atasan gw ini adalah, janganlah sering-sering kita berasumsi untuk bertindak. Apalagi ketika tindakan itu nantinya musti dipertanggungjawabkan. Sebelum bertindak, apapun itu, khususnya yang berbau pekerjaan, argumen, presentasi, dan sebagainya, memang lebih baik harus dipikirkn masak-masak, lihat faktanya, lihat perhitungan, ataupun segala data yang mendukung.

Analogikan aja kayak bikin skripsi, kalo bikin tulisan yang nantinya dipertanggung jawabkan di depan dosen penguhi, kita harus buat tulisan yang berdasarkan fakta atau data yang mendukung. Kira-kira demikian.

Nah, kalo semuanya kita tangguhkan berdasarkan asumsi semata, maka simple-nya, fucked up things yang akan kita dapat. Yakinlah. Gw udah pernah mengalami hal ini, makanya bos gw bilang kayak gitu ke gw.

Monday, 1 April 2013

Kuotasi hari ini

Semalam (barusan, seharian kemarin) sungguhlah luar biasa. Puji syukur kepada pemilik semesta gw ucapkan dengan tulus hanya untukNya. Intinya hari ini, sangatlah sulit untuk dideskripsikan. Semoga, seharian kemarin menjadi titik awal buat gw untuk berbuat lebih baik dan tertata lagi ke depan. Mulai dari sekarang ini adalah hari baru lagi buat gw, di umur gw yang sudah memasuki seperempat abad.

“Write it on your heart
that every day is the best day in the year.
He is rich who owns the day, and no one owns the day
who allows it to be invaded with fret and anxiety.

Finish every day and be done with it.
You have done what you could.
Some blunders and absurdities, no doubt crept in.
Forget them as soon as you can, tomorrow is a new day;
begin it well and serenely, with too high a spirit
to be cumbered with your old nonsense.

This new day is too dear,
with its hopes and invitations,
to waste a moment on the yesterdays.” 
― Ralph Waldo EmersonCollected Poems and Translations

Sunday, 31 March 2013

Goal of 25

Time flies, and yeah it feels so fast to me. Need a not-a-second time to realize that i already 25 y.o now. Getting older. It's kinda sucks, but i have to face it. That's the part of life. Everyone become older. Human is mortal. I hope, in my 25 y.o, i can make a real, definite, obvious, and etc in my life. I have to make it come true! So, from now on, i have to set some goal. Few, or several goals to be done. It must. I must.

1. Quit Smoke!
2. Stay sober!
3. Practice, practice, practice. Study, study, study!
4. Read more, read furiously!
5. Write more, write furiously!
6. Be more creative!
7. Pray more!
8. No more delay, no more pending on something!

Amin.

Monday, 25 March 2013

Sejam dan setahun sekali? | Earth Hour


===

Kemarin lusa, gw iseng ngebuka timeline dan membaca-baca status-status atau pun celotehan orang-orang di twitter. Seperti biasa, ada yang cuma keluhan, ada yang lagi bahagia, ada yang gak jelas, dan ada yang lainnya. Tapi tiba-tiba ada beberapa ocehan dari beberapa orang yang membahas soal Earh Hour. Mereka sepertinya excited sekali akan Earth Hour ini. Gw pun bertanya-tanya, "Earth Hour? emang sekarang ya?". Biasalah, segala macam celotehan di jejaring sosial media, apapun bentuknya, pasti akan selalu membawa kontek yang 'lebay' atau berlebihan. Maklum, apapun itu, pasti ujung-ujungnya mencari perhatian. Betul gak? Menurut gw sih gitu. Kalo emang gak mau ngaku bikin segala bentuk celotehan di linimasa lantas ngapain ditulis? Mendingan tahan aja dalam hati. Toh benerkan ujung-ujungnya supaya orang lain baca dan nunggu apakah ada yang ngerespon celotehan kita apa nggak? Oke, oke, oke, balik lagi. Intinya di celotehan yang ngebahas soal Earth Hour ini membuat gw tiba-tiba berpikir dan bertanya, "Earth Hour, sejam dan setahun sekali? Untuk Bumi?"

===
Kali ini gw mau berbicara mengenai suatu hari simbolis yang sering diistilahkan dengan nama Earth Hour. Kalo dibahasaIndonesiakan, maka secara gamblang bisa disebut dengan 'Jam-nya Bumi' (ini versi gw sendiri). Nah, pertanyaan pertama, mengapa harus disebut dengan Earth Hour? atau 'Jam-nya Bumi' itu?. Banyak yang bilang, dan gw pernah denger-denger dari sebatas obrolan sehari-hari, kalo Earth Hour itu berarti matiin lampu yang gak kepake selama sejam demi mengurangi adanya penggunaan listrik, atau demi mengurangi penggunaan energi yang berlebihan, atau juga demi menghargai bumi demi lingkungan yang lebih baik. Earth Hour ini sendiri biasanya diperingati setiap tahun dan selama sejam tentunya (makanya namanya Earth Hour), di bulan Maret, dan biasanya tanggalnya suka beda-beda. Tahun ini tanggal 23 Maret kemarin, tahun lalu itu tanggal 31 Maret kalo gak salah. Okelah, pokoknya kira-kira Earth Hour itu pengertiannya adalah demikian.

Mengacu ke wikipedia, Earth Hour itu adalah "worldwide event organized by the World Wide Fund for Nature (WWF) and held towards the end of March annually, encouraging households and businesses to turn off their non-essential lights for one hour to raise awareness about the need to take action on climate change". Nah, mulai ketemu kan, jadi kira-kira artinya Earth Hour itu adalah sebuah perhelatan tahunan dan mendunia yang digagasin sama WWF (organisasi lingkungan internasional sono-lah) untuk dilakuin setiap tahun di bulan Maret, yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan kepedulian orang-orang baik di lingkup rumah tangga atau kantoran dan sebagainya untuk matiin lampu yang dirasa "kurang penting" selama sejam. Ini dilakukan dalam rangka mengambil tindakan demi menghadapi adanya isu perubahan iklim.

Hm, cuma sejam dan setahun sekali? Buat gw agak aneh. Lagipula apa ngaruhnya cuma matiin lampu doang selama sejam? Memangnya beneran ngaruh terhadap perubahan iklim apa? Udah gitu, Bumi yang kita hidupi selama ini cuma dihargai dengan sejam dan setahun sekali? Hm, gw ngerasa kayak "Ke mana aja kita?!? Ngapain aja?!?"

Okelah, mungkin gw mencoba buat pengertian sederhana dulu di sini. Kalo misalnya ada ratusan ribu orang yang matiin lampunya selama sejam, itu jelas ngaruh ke efisiensi listrik buat si pembangkit listrik. Jadi bisa secara simpel ada pengurangan efisiensi listrik tentunya. Bisa juga dibaca pertimbanganny di berita-berita, nih contohnya, http://www.antaranews.com/berita/364801/earth-hour-hemat-listrik-170-megawatt . Lebih lanjut lagi, kalo si pembangkit listrik ada penurunan menghasilkan listrik, maka bahan bakar yang dipake si pembangkit listrik jelas berkurang dong (ini kalo pembangkit listriknya berbahan bakar fosil ya, dan setahu gw pembangkit listrik di Indonesia emang masih banyak yang make bahan bakar fosil, seperti batubara, diesel, ataupun solar). Nah, semakin berkurang pemakaian bahan bakar, maka, gw setuju kalo ada pengurangan atau reduksi terhadap pemakaian energi fosil buat si pembangkit listrik yang output-nya mengeluarkan karbon. Berarti memang jelas sepertinya, buat gw, akan Earth Hour untuk membantu menjaga lingkungan. Tapi, kalo emang mau hemat, kenapa harus cuma sejam dan setahun sekali?

Gw rasa, kalo tujuan utamanya untuk meningkatkan kesadaran akan menjaga lingkungan, lantas, sekali lagi, kenapa harus cuma sejam dan diperingati setahun sekali? Kenapa gak harus digalakkan setiap hari. Disebarkan propaganda Earth Hour itu ke seluruh orang di dunia, melalui pendidikan kek, penyuluhan kek, iklan di tv, internet, koran, dan semacamnya. Kenapa pula harus cuma matiin lampu yang dianggap "non-essential" aja? kenapa gak sekalian seluruh listrik di rumah masing-masing? Buat pengecualian, boleh nyalain listrik untuk yang memang dirasa perlu, semisal boleh pake nonton tv (sebentar) buat mantau berita (walalu skarang mantau berita bisa lewat hape) atau juga pengecualian buat gedung-gedung kantor yang memang harus menggunakan listrik untuk keperluannya.

Nah, terus kenapa Earth Hour itu harus malem terus ya dilaksanainnya? Kenapa gak siang aja? (ini gw gak tau alesannya). Lagipula kalo siang kan emang terang, jadi bisa gak cuma sejam kan? bisa seharian. Kalo malem ya jelaslah orang-orang tetep banyak yang butuh listrik di malem hari. Kalo gw mendingan siang aja deh. Lebih make sense buat gw. Udah malem, cuma sejam, dan setahun sekali pula. Kasian amat, Bumi kita cuma diberi 'space' segitu. Lagipula, kalo malem, misalnya, lampu dimatiin, terus orang-orang buat membantu mereka berkegiatan atau aktivitas bakal ada yang pake lilin (syukur-syukur kalo ada yang punya lampu batere yang bisa nyala setelah di-charge) dan kalo pake lilin itu berarti kita ngebakar minyak dong. Berarti ada karbon yang dilepas ke bumi (iya gak sih?). Bayangin aja kalo ada ratusan bahkan jutaan orang yang nyalain lilin pas earth hour selama sejam. Bakal ada berapa karbon yang dilepas ke udara Bumi kita ini? Kebayang gak? Gw sih kebayang.

Harusnya mah sekalian aja, kalo emang mau Earth Hour, kalo emang mau ngehargain bumi, jangan cuma sejam dan cuma matiin lampu yang gak kepake. Sekalian aja Earth Day, atau Earth Hours, lakuinnya dari pagi ampe jelang malem, terus jangan pake listrik sama sekali (kecuali ada yang dibutuhin), jangan pake kendaraan sama sekali (kecuali transportasi umum), jangan nyalain AC, dan masih banyak langkah yang bisa dilakuin untuk memberi ruang buat Bumi supaya bisa bernapas. Toh hasilnya juga buat kita-kita juga.

Sekali lagi, cuma sejam dan setahun sekali, itu masih nggak make sense buat ngehargain Bumi kita yang udah  seumur nenek-nenek tua (kalo yang gw baca di sebuah kitab agama). Kalo emang mau ngehargain Bumi, mending mari kita lakukan gerakan yang lebih jelas. Gimana caranya? Liat internet, baca buku, ajak ngobrol orang yang lebih tau, banyak kok caranya untuk menghargai Bumi kita ini. Baik itu dari cara yang sederhana ampe yang ribet. Alhasil, gw sih setuju dengan Earth Hour, tapi lebih bijak lagi kalo kita sendiri harus bisa lebih bijak mengkonsepsikan Earth Hour itu.

Yaudahlah, disudahi saja emengan gw, kayaknya ngacok. Kalo ada salah-salah kata maafkan, selamat membaca, ini hanya sekedar pemikiran belaka gw saja. Mungkin jika ada kontradiksi justru itu jalan baik untuk terbukanya sebuah diskusi.

Monday, 18 March 2013

Senin Garing

Hari ini sungguhlah garing. Baik jasmani, rohani, dompet, cuaca, lingkungan sekitar, orang-orang kantor, sampai orang-orang di jalan. Entah kenapa semuanya bisa terjadi berbarengan. Inilah keunikan semesta, kadang bisa berbeda dan kadang bisa bersama. Mungkin termasuk gw juga sedang menggaring hari ini. Padahal hari ini adalah hari Senin, hari di mana semuanya harus dimulai dengan baik, katanya sih gitu. Tapi yaudahlah, liat besok aja bakalan kayak gimana. Apakah berwarna apa masih abu-abu, atau hitam putih. Intinya, hari ini benar-benar 'crispy'.



*apapun yang terjadi setiap hari dalam hidup kita, katanya harus tetap disyukuri, masih untung dikasih hidup buat bekal benahi diri.

Jelang Usia Perak

Hm, menjelang usia perak gw, berarti seperempat abad sudah gw dikasih hidup sama yang punya semesta ini. Jelas berarti gw semakin tua. Ngebayang menjadi tua itu rasanya kok gak enak ya? Memang paling enak adalah ketika hidup di masa muda. (hm, sebenernya umur 25 itu gak tua juga. Itungannya masih muda. Tapi entah kenapa kalo ngebayangin masa-masa umur 17-22 itu ceritanya beda aja). Nah, kembali lagi, berbicara tua. Semakin banyak yang dipikirkan, terasa pula makin banyak beban. Baik itu yang berbau jasmani maupun rohani.

OKe, mungkin bisa gw mulai dari jasmani, semakin tua itu biasanya kondisi fisik semakin turun. Apalagi hidup di jaman sekarang, yang semua-muanya udah serba instan. Sampe jadi artis aja ada jalan instant-nya. Kondisi fisik berarti gak jauh dari kesehatan. Semakin sekarang gw pikir-pikir hidup gw gak ada pola sehat-sehatnya pisan. Kebanyakan bangun dari pada tidur. Intinya gak seimbang. Pola makan makin gak jelas, kadang beringas kadang malas. Ditambah lagi pola rokok yang gila. Gw akuin ini makin lama gak bisa gini terus harus diubah nih. Apalagi gw merasa kayaknya ada yang gak beres nih jasmani. Ya iyalah, pola hidup gak sehat pasti bakal ngaruh ke kesehatan.

Kalo gitu, apa solusinya? Berubah. Kurang-kurangi yang gak bener sampe akhirnya jadi bener. Itu target gw. Oke. Mari lihat bersama-sama, bisa gak? Mungkin banyak hal kecil yang kaitannya ke pola hidup gak sehat itu harus dihilangkan. Mulai dari manage waktu tidur yang harus lebih (paling nggak) 5 jam lah. Pelan-pelan diubah sampe waktu tidur jadi cukup. Makin banyak makan sayur dan minum air. Kayaknya pengen banget merealisasikan impian gw dulu untuk jadi seorang straight edge. Sejauh ini gw cuman ngemeng doang. Katanya pengen gak ngerokok dan jadi seorang vegan tapi ampe sekarang, it's still bullshit. Bah. Gw akuin gw malu dan sejauh ini masih ngemeng doang soal wacana jadi straight edge.

Hm, lanjut, gw juga harus memperbanyak lagi joging mengingat sudah hampir dua bulan ini gw gak pernah joging lagi gara-gara sibuk gak jelas antara ngurusin kantor atau nongkrong gak jelas ampe pagi. Padahal selama joging kemarin efeknya lumayan nyata. Badan sehat, dan tidur nyenyak. Asik.

Terakhir, rokok. This is the most crucial thing. Udah beberapa bulan ke belakang ini gw sadar, ini benda bener-bener gak ada gunanya. (tapi herannya, kenapa enak ya? entah sugesti entah apa). Gara-gara ini benda kayaknya badan gw makin berasa gak sehat aja bawaannya. Udah janji dari beberapa bulan lalu untuk ngurangin rokok pun sampe sekarang masih aja ngerokok terus. Bahkan makin banyak aja kayaknya. (stres? gak tau deh). Ini nih yang paling harus diilangin sama sekali dari hidup gw. Pertama, ngabisin duit. Kedua, mupuk penyakit. Ketiga, rokok dalam dunia tongkrongan itu bikin sakit (ini agak susah untuk gw jelaskan. Mungkin bakal gw tuangkan ke blog soal ini).

Ah yaudahlah. Gw pun gak yakin apakah bisa berubah jelang usia perak ini menyoali pola hidup yang gak sehat dan sangat sampah ini. Semoga aja bisa. Semoga aja ada yang mengingatkan gw soal ini.

Btw, hiduplah di jalan yang sehat. Fuck YOLO, yang beralasan semuanya harus dicoba, biar tau ini biar tau itu. Bullshit lah. Boleh coba, asal itu baik buat badan lu. BUkan cuma gaya-gayaan, lingkungan, atau biar punya temen. Masih banyak hal-hal yang bikin hidup lu gak sehat dan, apalagi, gak sober. Sekian. Bye.